Kamu datang dengan tiba-tiba, memasuki kehidupanku dengan begitu mudahnya. Aku yang pada dasarnya mudah untuk membuka hati, kini menjadi tidak memahami apa yang sedang aku lakukan. Aku bukan orang yang mudah percaya, sama sekali.
Komunikasi, aku nyaman dengan itu.
Maaf jika cahaya yang kau miliki menarik bagiku. Atau bisa aku katakan, kamu muncul ditengah-tengah langkahku mengambil keputusan atas sikapku. Keraguan. Ketakutan. Kejenuhan. Keegoisan. Semua berkumpul menjadi satu. Menjadi suatu perasaan yang tak pernah bisa kusampaikan kepada siapapun.
Menjadi sebuah kebiasaan baru bagiku untuk menunggumu. Bahkan jikalapun kau tidak membalasnya. Malu rasanya berbuat begitu. Tapi aku bisa apa? aku tidak mau berbohong pada diri sendiri atas apa yang aku inginkan. Bahkan sampai detik ini, aku belum tahu sama sekali apa kegiatanmu, kesibukanmu, atau bahkan keinginanmu. Hanya menebak-nebak atas pertanda yang kamu berikan. Aku Ingin kita menjadi teman. Bodoh. Permintaan macam apa ini? Teman? bahkan inginku lebih.
Sempat ingin pamit lewat pesan singkat yang kukirimkan di medsos pertama kali kita mengenal karena aku tidak ingin menjadikanmu alasanku untuk move dari yang telah berlalu. Katamu kau tidak membacanya karena kesalahan teknis, entah itu benar atau tidak tapi kata-katamu kupegang. Bersyukur kamu gak sempat membacanya, yang itu membawa aku lebih mengenalmu sampai sekarang.
Ingin menjadi satu-satunya yang kamu hubungi setelah Umi, tapi kembali, aku hanya teman onlinemu. Kamu bahkan belum pernah melihatku. Aaahh rasanya tidak nyaman seperti ini, menduga-duga apakah aku pantas menjadi teman perempuanmu atau tidak. Bahkan aku yakin, kamu dikelilingi oleh perempuan yang cantik secara fisik bahkan hatinya. Kamu baik sepanjang yang aku tahu, tapi yakin juga begitu pada kenyataanya.
Aku bersyukur bahwa Alloh menempatkan aku pada posisi ini, pikiranku terbuka untuk selamanya. Aku tahu bahwa aku tak seharusnya bersikap dingin pada setiap laki-laki. Belajar percaya pada seseorang menjadi suatu yang tidak mudah. Terlalu takut kecewa, terlalu tidak percayanya aku bahwa rasa kecewa sebenarnya mengajarkan aku pada suatu hal yang berharga.
Kamu menjadi alasanku untuk terus percaya, bahwa dunia ini akan menempatkan kita pada takdir kita masing-masing. Dengan cara Nya masing-masing. Bersatu atau tidak, kamu menjadi cerita tersendiri dalam hidupku. Sesuatu yang aku tahu, akan aku simpan. Hanya antara kita.
Aku ingin kamu tahu, dimanapun kamu. Aku berharap yang terbaik bagimu.
.
.
.
.
.
( To Be Continue )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar